• L3
  • Email :
  • Search :

June 9, 2013

Bergurau dengan Monyet di Sangeh

Bergurau dengan Monyet di Sangeh
Oleh Gede H. Cahyana

Bagaimana rasanya dinaiki monyet (monkey) atau raja monyet? Bagaimana rasanya bersenda gurau dengan monyet? Tegang, senang, takut, larut dalam kemelut atau gemetar menjalar di sekujur tubuh? Wisatawan yang belum tahu karakter monyet di Sangeh tentu kaget, bahkan menjerit-jerit. Anak-anak dan orang dewasa, apalagi kakek-nenek atau lansia (lanjut usia) bisa berdebar-debar bahkan berdentum-dentum jantungnya. Yang sudah tiga kali atau lebih ke Sangeh tentu tidak demikian. Mereka paham karakter monyet dan tahu cara “menjinakkannya”.

Sangeh adalah objek wisata yang berada nyaris di tengah-tengah Pulau Bali, di Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Badung adalah kabupaten terkaya di Bali dengan sumber PAD terbesarnya dari sektor wisata. Tak kurang dari 2,6 juta orang masuk ke Badung pertahun lewat Bandara Ngurah Rai, mayoritas dari Asia Pasifik. Belum lagi yang masuk lewat pelabuhan laut Gilimanuk dan Padangbai. Itu sebabnya, kabupaten ini memiliki kompleks perkantoran terpusat yang terluas, termegah dan artistik di Indonesia, mengalahkan Tenggarong. Namanya Mangupura, lalu sekarang menjadi Mangupraja, Sempidi. Betapa tidak, Kuta, Legian, Seminyak, Kerobokan, Sanur, Art Center, Benoa, Nusa Dua, Taman Ayun, Uluwatu, dan sederet lagi yang lain berpijak di Badung dan menjadi tujuan utama wisata biro perjalanan.

Kembali ke Sangeh. Secara legal formal, Sangeh dijadikan objek wisata pada tahun baru 1 Januari 1969. Dengan dana dari sumbangan wisatawan yang ke Sangeh, objek ini terus berbenah. Baru pada tahun 1996, tepatnya 1 Januari, resmilah penarikan retribusi berdasarkan Perda No. 20 tahun 1995 Kab. Badung dengan pengelola resminya adalah Desa Adat Sangeh. Awalnya, hutan seluas 10,8 Ha ini berupa cagar alam kemudian berubah menjadi Taman Wisata Alam berlandaskan SK Menteri Kehutanan no. 87/Kps-II/1993 yang luas hutannya ditambah 3,169 hektar. Selain populasi monyet yang terdiri atas 600-an ekor, daerah ini juga kaya dengan pohon pala, Dipterocarpus trinervis. Juga ada 54 jenis pohon lainnya, antara lain amplas (Tetracera scandens), Pule (Alstonia scholaris), buni (Antidesma bunius), cempaka kuning (Michella campaka), kepohpoh (Buchanania arborescens).

Selain monyet abu-abu tersebut (Macaca fascicularis), ada 22 jenis satwa lain, di antaranya alap-alap (Elanus hypoleuca), elang (Haliaster indus), burung hantu (Type java albanica), terocok (Gouvier ahalis), musang (Paradorurus hermaproditus), kucing hutan (Felis bengalensis), sendang lawe (Ciconia episcopus). Hanya saja, wisatawan harus sabar untuk dapat melihat hewan-hewan ini. Dengan bantuan guide, kita bisa minta tolong di mana saja lokasi hewan tersebut. Satu lagi, amankan atau simpan perhiasan, jam tangan, kaca mata, kamera, ponsel, dll agar tidak diincar oleh monyet. Meskipun tidak senakal monyet di Uluwatu, wisatawan sebaiknya waspada. Ia pun tidaklah sejinak monyet di Alas Kedaton, Tabanan.

Ingin merasakan diganduli monyet? Kira-kira, berapa persenkah wajah monyet ini serupa dengan wajah manusia? Hehehe. Satu…, dua…., tiga…, jepret. Foto saja, lalu cetak. Saksikan dan bandingkan. :) Lamakah ke sana? Dari Bandara Ngurah Rai, kalau naik taksi bandara, bisa kena 180-200 ribu rupiah dengan waktu tempuh 60-70 menit. Kalau lancar tentu saja. Kalau dari Gilimanuk, sekitar 4 jam, turun di Terminal Mengwi. Naik taksi resmi atau preman juga ada. Jadi…, mau nyoba menggendong monyet? *

1 comment:

  1. subhanalloh.. jadi ingin kesana,
    ingin menyaksikan secara langsung kekayaan budaya & alam Indonesia

    ReplyDelete