• L3
  • Email :
  • Search :

March 25, 2006

Kaporit, Pembasmi Bakteri

Suatu hari seorang pelanggan PDAM protes lantaran airnya berbau kaporit. Rasanya tidak enak apalagi untuk menyeduh kopi atau teh. Pada saat yang lain ada pelanggan PDAM yang protes justru karena airnya tidak berbau kaporit. Dianggapnya PDAM belum betul mengolah air sehingga ia khawatir air yang diminumnya dapat membahayakan kesehatan.

Kali lain, ada yang keliru menggunakan kaporit. Air keruh diberi kaporit sebagai obat untuk menjernihkannya. Setelah disaring lewat filter, airnya tetap keruh, tak berbeda dengan air sebelum diolah. Di depot air minum isi ulang sering ada tulisan UV sterilizer, pensteril air agar bebas bakteri. Di wadah air minum kemasan (amik), selain ada yang mencantumkan UV juga kerapkali tertulis ozon. Sesungguhnya, apa dan bagaimana fungsi zat -zat kimia tersebut dalam pengolahan air? 

Jenis zat kimia
Zat kimia yang terlibat dalam pengolahan air bisa dibagi menjadi empat macam. Ada sebagai penjernih, sebagai pembasmi bakteri, sebagai penstabil air, dan sekadar zat tambahan. Ujudnya ada yang padat, ada yang cair, ada yang gas. Cara pembubuhan atau injeksinya pun bermacam-macam.

Berkaitan dengan zat kimia itu, ada kisah menarik. Sebuah kota, namanya San Paolo, ditimpa masalah. Air ledengnya yang diambil dari Danau Chavez tercemar berat. Ribuan orang lantas sakit dan ratusan tewas. Mereka tak mau lagi minum air ledeng itu. Buat kumur-kumur dan menyikat gigi saja takut. Terjadilah krisis air minum. Ribuan liter air bersih terpaksa dikirim dari kota-kota terdekat, mirip kasus tsunami di Aceh atau gempa di Nias. Orang-orang antri air minum kemasan (amik). Praktisi sanitasi bekerja keras menemukan sebabnya. Dan yang diduga menjadi sebabnya adalah PAC (polyaluminum chloride). Ternyata keliru. Lalu tawas yang telah digunakan selama 50 tahun disinyalir sebagai sebabnya. Lagi-lagi nihil hasilnya. Kasusnya terus muncul dan orang-orang yang tewas terus bertambah.

Akhirnya disimpulkan, wabah itu bukan karena PAC atau tawas tapi ada sesuatu yang lain. Apakah itu? Setelah lama diselidiki, ternyata cryptosporidium-C pelakunya. Mikroba dari grup protozoa ini mampu membentuk spora di usus halus manusia lalu menghalangi penyerapan air sehingga penderitanya menjadi haus terus. Mikroba ini pun tak mempan dibasmi dengan klor atau kaporit dan tahan dalam air mendidih lebih dari sepuluh menit. Luar biasa! Setelah berkali-kali dicoba barulah diketahui bahwa ozon mampu membasmi parasit itu. Direktur "PDAM" San Paolo lantas menggunakan ozon untuk membasminya. Aman lagilah air danau itu dan siap diolah untuk didistribusikan ke pelanggannya. Begitulah kisah film Thirst (haus, dahaga).

Dalam film tersebut tercatat tiga zat kimia atau reagen yang terlibat, yaitu tawas, PAC, dan ozon.

1. Disinfeksi dan oksidasi.
Yang termasuk jenis ini adalah kaporit, klor, ozon, kuprisulfat, dan oksigen. Zat tersebut sering digunakan oleh PDAM. Yang terbanyak dipakai adalah kalsium hipoklorit atau kaporit, Ca(OCl)2. Keuntungannya, ada sisa klor. Sebaliknya ozon dan UV tidak ada sisanya di dalam air. Ini berbahaya kalau ada pipa bocor atau sambungannya tidak ketat (merembes). Air kotor berisi kuman bisa masuk lagi ke dalam pipa distribusi. Tercemar lagilah air olahan itu. Kualitasnya malah bisa jauh lebih buruk daripada air bakunya dan berbahaya bagi kesehatan ginjal dan hati (lever). Perlu dicatat, air yang bau kaporitnya seangin (trace, sangat sedikit), lebih aman daripada air yang tidak berbau kaporit. Tentu saja tidak boleh terlalu bau. Kisaran kadar kaporit sisa ini 0,2 - 0,3 mg/l.

2. Koagulasi-flokulasi.
Disebut di atas, tawas atau Al2(SO4)3.18H2O adalah koagulan terpopuler di PDAM. Selain itu ada juga besi sulfat dan besi klorida. Yang lainnya adalah polimer seperti PAC. Sebagai penjernih air yang dapat menggaet koloid dalam air lantaran muatan positifnya, tawas dan PAC banyak diterapkan untuk mengolah air sungai. Nyaris tak ada PDAM yang tidak menggunakan tawas jika air bakunya dari sungai. Tawas akan berikatan dengan kekeruhan (koloid) membentuk gumpalan atau flok. Flok kimia (kimflok) yang terbentuk lalu diendapkan di unit sedimentasi. Sedangkan kimflok ringan yang lolos-tidak mengendap-disaring di filter pasir silika. Adapun air tanah (misalnya mata air), lantaran sudah jernih, tak perlu lagi ditambah tawas. Hanya perlu kaporit sebagai disinfektan, pembasmi bakteri.

3. Penstabil air.
Zat kimia ini untuk mengatur taraf keasaman atau kebasaan air dan kadar mineralnya. Yang termasuk di dalamnya adalah asam, basa, dan garam-garaman. Beragam jenis soda dan kapur kerapkali digunakan. Pada penurunan kesadahan digunakan proses kapur-soda dan bermacam-macam variannya. Senyawa dari unsur magnesium dan klorida juga banyak terlibat. Berikut ini adalah contohnya: NaOH (natrium hidroksida/soda api), Ca(OH)2 (kalsium hidroksida/kapur tohor), Na2CO3 (natrium karbonat/soda abu), NaHCO3 (natrium bikarbonat/soda kue), NaCl (natrium klorida/garam dapur), HCl (asam klorida), H2SO4 (asam sulfat). Masih ada lagi zat lainnya.

4. Aditif
Kelompok terakhir ini untuk memperbaiki mutu air apabila ada zatnya yang kurang. Misalnya, kekurangan fluorida bisa ditambahkan natrium fluorida, NaF. Fungsinya untuk melindungi gigi dari karies. Namun demikian, PDAM jarang melakukan ini kalau tak bisa dikatakan tidak pernah.

Adapun penggunaan sinar ultraviolet (UV) harus hati-hati karena tidak semua spektrum panjang gelombangnya mampu membunuh bakteri. Saat ini para peneliti membagi radiasi UV menjadi beberapa kelompok dalam rentang 400-100 nm (nm: nanometer. 1m = 1 milyar nm). Ada juga yang mengatakan antara 400-4 nm. Rinciannya: UV-A: panjang gelombangnya 320-400 nm; UV-B: 280-320 nm; UV-C: 200-280 nm; dan UV ekstrim atau UV vakum: 100-200 nm. Sedangkan rentang panjang gelombang yang mampu membasmi bakteri ialah 280-200 nm. Ada juga pendapat lain, yaitu 260-265 nm.*

17 comments:

  1. Makasih Pak artikelnya sangat bermanfaat. Kalau airnya bau, solusinya pakai kaporit ya Pak, bukan tawas?
    Best regards,
    Hardy

    ReplyDelete
  2. Makasih Pak Artikelnya, sangat berguna, Mohon pak takaran untuk sumur bor

    ReplyDelete
  3. Untuk sumur bor, terutama sumur artesis, bisa dikurangi menjadi setengah dari dosis di atas. Untuk sumur bor dangkal (air tanah bebas), takarannya 3/4 dari dosis di atas. Sekian dan semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  4. Sy mau tanya,skrg sy sedang hamil dlapan bln. Sejak sebulan yg lalu sy pindah k rmh bru yg tnyata sumber airnya PDAM dan berbau kaporit. Apakah kondisi tsb aman bg ibu hamil dan janin?

    ReplyDelete
  5. Kalau baunya tidak terlalu kuat, hanya seangin saja, tidak masalah. Tapi kalau kuat baunya, sebaiknya air difilter dulu dengan filter karbon aktif, selanjutnya bisa diminum. Ini utk tindakan pencegahan, utk preventif. Semoga bayinya sehat dan lahir dengan selamat, begitu juga ibunya. Demikian.

    ReplyDelete
  6. Akhirnya saya tahu beda fungsi tawas dan kaporit.

    ReplyDelete
  7. Mau tanya pak, sumur gali rumah saya (kedalmaan 6 m) berwarna kuning kotor.
    Kira2 berapa takaran dalam kg jika akan sy beri tawas, juga takaran brp jika akan sy beri kaporit. Apakah keduanya bisa digunakan sekaligus?
    Sebelumnya sudah sy coba pake kapur 1 kg tp tidak terlalu berpengaruh.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  8. maaf mau tanya...tawas atau kaforit langsung ditabur ke air sumur atau di bungkus dulu pake kain baru di letak dala air sumur? mana yang bagus?

    ReplyDelete
  9. Sekaligus menjawab bbrp pertanyaan di atas. Guna tawas berbeda dgn kaporit. Tawas utk jernihkan air. kaporit utk basmi bakteri. Tawas harus diaduk di dalam air agar hasilkan endapan di dasar bak. Kaporit sebaiknya diaduk agar cepat menyebar ke seluruh bagian air di dalam bak. Tapi tidak diaduk jg gpp. Bakterinya masih bisa dibasmi. Jadi, kalau dibungkus begitu, utk yang tawas tidak akan berfungsi. Kalau kaporit, masih bisa berfungsi dan kotoran kaporit serbuk akan tetap berada di dalam bungkusnya. Saran: gunakan saja kaporit tablet, relatif tidak ada sisa kotoran di dalam bak (sumur). Tks sudah berkunjung di blog ini.

    ReplyDelete
  10. brp ya mas takaran kaporit untuk sumur dengan lebar 1x1 tinggi 3 mtr kapasitas air 2 mtr dari batas air hingga kedalaman sumur?

    ReplyDelete
  11. Agar mudah, gunakan kaporit tablet. Satu tablet bisa utk 1 m3 air. Berangsur-angsur tablet kaporit akan mengecil...

    ReplyDelete
  12. salam. pak untuk menghilangkan bau tidak sedap yang menyengat pada limbah cair apa bisa dengan kaporit atau yang lainya mohon beri petunjuk .. baunya sangat kuat sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa gunakan kaporit, di bagian akhir pengolahan. Kalau air limbahnya dari pengolahan makanan - minuman, bisa digunakan pengolahan biologi. Buatlah bak untuk menampung limbah, kemudian dikasi udara dari blower. Air yang keluar dari bak ini dibiarkan di bak kedua selama 3 jam. Air yang keluar dari bak kedua ini lantas dialirkan lagi ke bak yang kesatu tadi. Yang lebih bagus, lumpur di bak kedua dialirkan (dipompa) ke bak kesatu tadi. Di bak ketiga, selama 30 menit, tambahkan kaporit, lalu airnya bisa dibuang ke selokan/sungai terdekat.

      Delete
  13. mas,sy sudah pakai tawas kedalam sumur gali tp hanya sebentar jernihnya,setelah dipakai beberapa kali air sumurnya berwarna kuning berkarat lg,bagaimana ya mas solusinya agar air tidak berkarat lg?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tawas itu jangan ditaburkan di sumur, tapi ditaburkan di bak lalu diaduk yang kencang. Diamkan selama 30 - 45 menit, kemudian alirkan air jernihnya ke filter sederhana. Filter ini dibuat dari ember bekas juga bisa, asalkan tidak bocor di bagian alasnya ya :). Pasang kerikil 2 - 3 cm di lapisan bawah, lapisi lagi dengan ijuk yang sudah dicuci bersih setebal 10 cm. Di bagian atas diisi pasir yang sangat halus, ukurannya 0,2 - 0,35 mm. Air filtrat pasti jernih.

      Jadi, sekali lagi, air sumur itu dipompa dulu ke bak tawas. Tawas tidak dimasukkan ke sumur krn susah ngaduknya kan alias tidak diaduk. Padahal pengolahan air dgn tawas (juga PAC) ya harus diaduk secepat-cepatnya hehehe. Ok?

      Delete
    2. KALO MENGGUNAKAN POLARIT APAKAH AIRNYA BISA DIMINUM

      Delete
  14. Selamat Malam Pak, saya mau bertanya
    apa yang menjadi penyebab jika air bersih hasil pengolahan masih terdapat cacing dimana telah ditambahkan kaporit dlm proses pengolahannya? apakah sisa klor yang ada berbahaya bagi lingkungan

    terima kasih

    ReplyDelete